PUTRA AYUN SANG PRABHU UDDHAYANA WARMADEWA

 

Pada tahun saka 912 prabhu Uddhayana raja pulau Bali kawin dengan Mahendradatta putri Janggala cicit dari Maharaja Sindhok dan adinda prabhu Sri Dharmawangsa Tguh Wikromouttungga. Dari perkawinan ini lahir putra sulung – putra ayun - Radenputra Erlangga Warmadewa yang pada saat kelahirannya ternyata disertai gempa yang mengguncang istana. Itulah bukti bahwa dia adalah titisan dewa.

Setelah dewasa Radenputrasulung ini berangkat ke Jawa diiringi pemuda usia 23 tahun bernama Narottama seorang putra pendeta istana dan disuruh menjaga agar terhindar dari segala kejahatan. Erlangga akan dinikahkan - arsa winiwaha atemutangan – dengan Dewi Galuh Sekar Kedhaton dari Janggala, putri dari prabu Sri Dharmawangsa Tguh Anantawikrama. Namun pada saat akan dilangsungkan acara pernikahan agung di balai Dharmikasasana, maka dengan tidak terduga datanglah prajurit Wurawari yang tiba-tiba menyerang istana. Sebagai akibat dari serangan ini Sri Dharmawangsa Tguh menjadi korban dan meninggal dunia yang diikuti dengan sang permaisuri membela suami dengan menikam diri. Kemudian setelah tidak menemukan calon temanten Dewi Galuh Sekar Kedhaton, maka raja dari Wurawari memerintahkan membakar istana Kahuripan menjadi abu rata dengan tanah. Bagaimana dengan nasib Erlangga?

 

Berkat bantuan Narottama, maka Erlangga yang saat itu masih berusia 16 tahun bersama Dewi Galuh dan ken Bayan berhasil meloloskan diri dari istana menyusup ke dalam hutan. Setelah sampai di pinggir bengawan mereka menaiki perahu menghilir ikut aliran kali sampai ke pantai dalam keadaan malam yang gelap dan hujan yang semakin lebat. Esok harinya ternyata mereka sampai di dusun Lengguk wilayah Sedayu dan mereka diterima tinggal di Kabuyutan Sedayu. Dua bulan kemudian Erlangga dan Narottama berdua melanjutkan perjalanannya untuk berkelana tanpa diikuti Dewi Galuh yang tetap tinggal di Kabuyutan Sedayu.

Dalam pengembaraannya Erlangga pada tahun saka 930 bulan Asada kawin dengan anak dara kepala desa Canegramasamaha. Dari perkawinan ini dianugrahi seorang putra lelaki yang lahir pada bulan Srama tahun Saka 932 diberi nama Panji Garasakan.

Pada tahun saka 940 saat berusia 27 tahun Erlangga dinobatkan menjadi raja Janggala dengan gelar Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Nantawikrama Uttunggadewa. Sebelum upacara penobatannya Erlangga berseru: “Ya Alam telah murah hati dengan mengijinkan saat ini aku menjadi raja karena sabda Dewata. Dalam usaha menegakkan pemerintahan ini aku membutuhkan bantuan kalian semua. Aku bersumpah akan menjadi payung pada yang kesusahan dan menjaga keseimbangan dunia, sebab aku akan menghukum siapa pun yang jahat, tidak sopan dan yang berkelakun buruk” Sedangkan Narottama dijadikan Kanuruhan bergelar Rakryan Kanuruhan pu Dharmmamurti Narottama jana. Titah pertama dari sang prabhu adalah mengutus menjemput sang Dewi Galuh Sekar Kedhaton di Kabuyutan Sedayu. ( Koes Indarto ).

Pada tahun saka 942 raja Erlangga dan permaisuri Sekar Kedhaton dikaruniai seorang bayi perempuan yang diberi nama Sanggramawijaya yang artinya unggul dalam medan pertempuran. Pada usia tujuh bulan telah dihadiahi jabatan sebagai putri mahkota dengan gelar Rakryan Mahamantri i Hino.

Pada tahun saka 944 Raja pindah dari Cane ke istana baru di desa Jdong lereng utara gunung Penanggungan yang diberi nama Wwatan Mas – alih ng kedhaton hanyar ingaran Wwatan Mas – sebagai ibukota Janggala. Adapun Cane ( sekarang namanya desa Tanen di barat laut kota Pacet ) diberi hadiah sebagai sima dan bertugas sebagai benteng yang menghalangi musuh dari arah barat. Dan di Wwatan Mas permaisuripun melahirkan putra kedua yang diberi nama Raden Samarawijaya.

Menjelang akhir pemerintahan Erlangga pada tahun saka 963 Kanuruhan Narottama meninggal dunia pada usia limapuluh tujuh tahun. Selang tiga bulan kemudian permaisurinya juga meninggal dunia pada usia limapuluh satu tahun. Hal tersebut membuat Erlangga sangat berduka ,merasa kehilangan pegangan dan serasa tidak ingin lagi menjadi raja. Lalu timbul niatan untuk meletakkan jabatan raja dan akan menjalani kehidupan pertapa. Ternyata timbul masalah siapa yang akan menggantikanya, oleh karena putrinya Sri Sanggramawijaya berharap agar kedudukan itu diberikan kepada adiknya yang putra Samarawijaya. Raja harus mempertimbangkan dan menentukan pilihan karena mempunyai dua putera, yakni Samarawijaya usia sembilanbelas tahun atau Mapanji Garasakan tigapuluh tahun. Akhirnya dipilihlah keputusan yang adil dan bijaksana, yaitu dengan membelah negara menjadi Jenggala Keling dan Panjalu Kadhiri – mablah naghara dadi Jenggala Keling mwang Panjalu Kadhiri- agar kedua putranya menjadi raja. Sang Samarawijaya bertahta di Panjalu Kadhiri dengan gelar Maharaja Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Tguh Uttunggadewa, istananya di Dhanapura. Sang Garasakan bertahta di Jenggala Keling dengan gelar Rake Halu Sri Mapanji Garasakan, istananya di Surapura.

Satu bulan kemudian sang pendeta prabhu pun pidah pergi bertapa ke Kapucangan – sang Padhita Prabhu maran tapa ring Kapucangan – antara lain diikuti dewi Sanggramawijaya yang telah menjadi bhikuni bernama Kilisuci Sudhisila sampai dengan wafatnya satu setengah tahun kemudian. Pada bulan Badra tahun saka 966, dilaksanakan upacara pengabuan sang pendheta prabhu di Pucangan disaksikan kedua raja dari Panjalu dan Janggala. Sang Mahadewi yang sudah bertekad bulat bermaksud ikut mati bersama suami, seketika dengan gagah berani menjatuhkan diri ke dalam api unggun serta merta ikut menjadi abu dan lebur bersama suaminya. (Koes Indarto ).

Bahwa dinamika dan romantika kehidupan Erlangga ini tidak bisa dipisahkan dari gunung Penanggungan yang merupakan lokasi berlangsungnya peristiwa sejarah tersebut yang ditandai dengan keberadaan arca, punden, candi, pertapaan dan situs-situs yang luar biasa banyaknya. Salah satu yang tertua adalah candi air – patirthan - Jalatundha di lereng sebelah barat gunung Penanggungan yang selesai dibangun pada tahun saka 947 dan ditahbiskan menjadi pemandian suci yang hingga kini airnya tetap bening dan bersih. Mengapa justru di gunung Penanggungan?

Gunung Penanggungan sudah berabad-abad dianggap sebagai suatu gunung yang suci, khususnya pada zaman Hindu-Budha. Pada zaman Majapahit ternyata ada banyak peziarah yang naik gunung ini untuk memuja para dewa dan para roh luhur, dan juga untuk semedi dan cari wahyu. Ada banyak rsi/petapa yang tetap tinggal di tempat pertapaan, dan para peziarah mengunjungi para petapa itu untuk dapat pengajaran. Kita semua tahu, bahwa Gunung Penanggungan itu punya bentuk yang khas sekali. Puncak gunung dilingkari 8 bukit, sehingga gunung ini kelihatan semacam mandala alami. Dalam sastra Jawa kuno, Tantu Panggelaran, diceritakan bahwa gunung suci, yaitu Gunung Meru dibawa oleh dewa-dewa dari India ke Jawa. Karena gunung ini sangat besar sekali dan jauh perjalanannya, ada bagian gunung yang sudah jatuh di bagian Jawa sebelah barat. Sehingga pulau Jawa seimbang, para dewa terus bawa sisa gunungnya kebagian Jawa timur. Puncak gunung akhirnya jatuh di daerah kita ini, dan badan gunung yang paling besar jatuh lebih ke timur lagi menjadi Gunung Semeru. Gunung Meru dari India itu dianggap sebagai tempat para dewa, dan dalam mitologi bentuknya justru adalah satu puncak dan 8 bukit, yaitu bentuk Gunung Penanggungan ini. Karena itu sudah menjadi jelas, bahwa Penanggungan dianggap sebagai bagian atas Gunung Meru dan dianggap sebagai gunung suci. ( Lydia Kieven, Sydney / Cologne ).

Untuk apa dan mengapa kita mengutip cuplikan sejarah Erlangga? Cerita sejarah ini yang tentunya sudah diketahui oleh masyarakat pada umumnya, diharapkan punya arti tersendiri bagi para mahasiswa, wisudawan, alumni maupun segenap komunitas kampus di Airlangga.

Sosok Prabu Erlangga dikenal luas di dalam khasanah sejarah bangsa. Kalau pamornya kurang dibandingkan raja-raja Majapahit dan kerajaan lainnya, mungkin karena kurang luasnya pemahaman dari kita semua. Beliau yang bertahta dari Tahun 1019-1041 M dikenal ahli dalam berbagai bidang, antara lain bidang politik, militer, strategi perang, tata negara, pemerintahan dan ilmu pengetahuan. Karya-karya besar dalam zaman Prabu Erlangga berkuasa cukup menjadi bukti kebesarannya. Hal-hal yang diutarakan tersebut perlu dikaji lebih lanjut untuk disumbangkan bagi perkembangan budaya Nusantara. ( Ki Subronto Prodjoharjono ).

 

Cerita itu hanyalah sekedar cerita yang manfaatnya masih memerlukan penemuan dan penilaian hidup yang memberikan rangsangan atau motivasi untuk hidup selanjutnya. Cerita atau sejarah apapun itu merupakan ilmu pengetahuan belaka (descriptive science) yang memerlukan kegiatan berikutnya. Ingatlah pada pepatah yang berbunyi sebagai berikut: “history without politics has no fruits”. Tetapi masih harus diingat bahwa “politics without history has no roots”. ( H.Soenarko Setyodarmodjo ).

Lalu apa makna dan manfaat sejarah tentang Prabu Erlangga bagi segenap civitas akademika dan alumni Universitas Airlangga? Atau adakah dampak dan konsekwensinya bagi universitas dengan menyandang nama sosok Airlangga dengan segala nilai historisnya? Sungguh kita bersyukur dan berterimakasih, bahwa almamater kita memiliki hymne yang sangat indah dalam mengagungkan kejayaan Airlangga. Setidaknya setiapkali kita menyanyikannya dengan khidmat, senantiasa timbul ingatan, rasa hormat, bangga dan membangkitkan motivasi untuk berbakti dengan semangat satria Airlangga kusuma negara. Namun apakah untuk selanjutnya ada langkah dan tindakan nyata yang dilakukan sebagai manifestasi dari kepedulian bersama terhadap nama besar yang menjadi ikon universitas kebanggaan kita ini?

Kiranya banyak acara kegiatan yang bisa dilaksanakan dalam rangka mengenang kebesarannya, misalnya dengan seminar / diskusi hasil penelitian, lomba karya tulis, festival sastra, seni dan budaya atau publikasi peninggalan sejarah yang terkait dengan Erlangga. Atau bersama pemerintah daerah setempat melaksanakan kegiatan sosial di bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, peternakan, perekonomian, dan pelestarian lingkungan demi membantu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di wilayah gunung Penanggungan. Selanjutnya akan sangat membahagiakan dan sungguh membanggakan bilamana alumni bersama almamater dengan segenap pakar dan ahlinya dapat mewujudkan suatu karya monumental dikampus ini. Bagaimana kita membangun satu ruang khusus – semacam museum dan perpustakaan khusus - yang memvisualisasikan secara lengkap sejarah kehidupan Erlangga yang tidak hanya bisa diakses kalangan akademis saja, melainkan juga bagi para pecinta sejarah, sastra, seni, budaya dan masyarakat pada umumnya.

Marilah dari sekelumit cerita sejarah ini kita catat pesan moral yang disampaikan agar dapat dijadikan acuan dalam kehidupan serta pelaksanaan tugas dan fungsi kita masing-masing, bahwa:

 

  • kita senantiasa membutuhkan bantuan semua orang
  • hendaknya kita bisa menjadi payung bagi mereka yang kesusahan
  • menindak siapa pun yang jahat, tidak sopan dan yang berkelakuan
  • buruk, dan senantiasa menjaga keseimbangan dalam kehidupan kita.

 

Penulis sungguh bersyukur dan berterimakasih sekiranya sumbangan tulisan ini ada manfaatnya bagi alumni dan almamater. Terimakasih atas segala perhatiannya.

 

Catatan:

1.Prof.Dr.Subronto Prodjoharjono, MSc adalah Ketua Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan Yogyakarta ( 2008 ).

2.Prof.Dr.Drs.H.Soenarko Setyodarmodjo,MPA adalah Ketua Dewan Penasehat Lembaga Javanologi Surabaya ( 2008 ).

3.Koes Indarto adalah penulis buku “Katuturanira Maharaja Erlangga” Lembaga Javanologi Surabaya ( 2008 ).

4.Lydia Kieven adalah penulis “Panji di Gunung Penanggungan” Sydney / Cologne ( November 2008 ).

 

 

Oleh: Drs.R.Dyatmiko Soemodihardjo,SH,MHum ( Alumnus FH UA 1957 )

 

 

 

Dinamika Unair

Search

Alumni berprestasi

Ayu “Pengajar Muda” Sambang Kampus

 

Ayu Kartika Dewi, Pengajar Muda, yang direkrut Indonesia Mengajar pimpinan Anies Baswedan angkatan pertama bertugas di Halmahera Selatan sambaing kampus Universitas Airlangga. Jumat, 6 Mei 2011, bertempat di Perpustakaan kampus B, Ayu berbagi pengalaman yang dikemas dalam bentuk story telling dengan siswa SMA di wilayah Surabaya dan mahasiswa Universitas Airlangga.

Read more...

Whois online

We have 25 guests and no members online